As Time Goes By
Hari-hari terasa begitu cepat berlalu, ini sudah memasuki semester 2, dan rasanya perasaanku sudah mengarung terlalu jauh untuk seorang Raka, apa mungkin aku benar-benar menyukainya? Entah, ini aneh.
Hari ini, ada kerja kelompok senibudaya, ansambel. Betapa irinya aku pada Sarah, iya, dia satu kelompok dengan Raka. Sudahlah, aku tidak mau memusingkan itu, lagi pula inikan hanya kerja kelompok, untuk apa aku memusingkan hal tersebut, ini masalah nilai. Di sela-sela keseriusan kami dalam mengaransemen lagu yang untungnya aku satu kelompok dengan Dion, yang memang mahir dalam urusan musik, aku, Dion dan 5 orang lainnya memutuskan untuk beristirahat sejenak, terlalu serius juga bukanlah hal yang bagus. “eh main truth or dare yuk...” Dina asal ngomong. Aku tersenyum, mungkin ini ide bagus untuk kenal lebih dekat dengan teman baru, yaa walau kami sudah 6 bulan bersma, waktu bukanlah jaminan dari kedekatan kami yang sekelas namun jarang berbicara satu sama lain ini. Semua tampak setuju. Karna kami kerja kelompok di rumah Dina, maka Dina segera mengambil semacam botol kosong yang entah darimana dia dapat.
Satu-persatu orang terkena gilirannya masing – masing, aku juga sudah, untung pertanyaanya sangat mudah. Aku hanya ditanya apakah aku mempunyai uneg-uneg diantara mereka, ya jelas saja tidak. “ ahaaa Dion’s turn” ucapku saat botol yang kuputar mengarah ke Dion. “truth or dare” “truth” “dari raut muka lo belakangan ini, gue mau nanya, lo pasti lagi suka sama salah satu cewe di sekolah” tebakku asal, namun itu disambut dengan gelak tawa penasaran teman-temanku. “damn..” gerutunya pelan “iyaaa -__-“ seketika celotehan asal seperti haah... atau wow.. langsung keluar dari mulut-mulut usil kami “siapa?” tanyaku penasaran “kayanya Alyssa penasaran banget yaa, waah curiga nih gue, jangan-jangan lo suka ya sama Dion” ucap salah satu temanku asal, Erdo. Namun sialnya yang lain malah ikut menggodaku, bodohnya Dion malah senyum-senyum lagi -___- “apaansih lo semua... buruan jawab dion” Dion tampak berpikir dan membuat kami semua penasaran. “Sarah” “whaaat? Diakan sahabat gue!” ”iya gue tau kali, makanya bantuin gue dong! Ehiya awas ya lo semua sampe nyebar” semua tertawa, ya termasuk aku.
Ini dia hari yang ku tunggu, yap penampilan ansambel kami, untuk pengambilan nilai seni musik kami. Dikelasku terbagi menjadi 5 kelompok. Seketika di hari itu banyak sekali alat-alat musik seperti gitar, tam-tam, suling, pianika, dan sebagainya. Pak Tama memasuki kelas kami dan kelompoki pertama maju, penampilannya sedikit mengecewakan. Kelompok 2, ini kelompok Sarah, yang artinya, ini juga kelompok Raka, dengan baju batik khas sekolah kami, Raka maju dengan membawa gitar. Dia tersenyum, dan tertawa kecil, lalu dengan perlahan namun pasti, Raka mulai memetik gitarnya, alunannya begitu indah.
Setelah beberapa kelompok maju, kini giliran kelompokku yang siap tampil, aku dan Dion akan memainkan gitar, Dion classic, dan aku bagian akustiknya, Erdo pada tam-tam sedangkan yang lainnya memainkan pianika dan suling. Aku melirik kearah Raka yang duduk di barisan tengah, dia paling depan. Sejenak mata kami saling menatap satusama lain, itu membuat dadaku berdegup kencang. Rasanya seketika jantungku berhenti, dia tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar