Piket
Sayang Fian saat itu tidak masuk sekolah, padahal novel yang sekarang sedang dipegang Fian sangat-sangat ingin kubaca belakangan ini, biarlah mungkin Fian sakit, atau mungkin ada acara, aku juga tidak inging terlalu memusingkan hal itu. Kembali ke kelas tidak ada banyak yang bisa kulakukan selain membuka buku tulis kosongku dan mencoret-coret isinya, karna memang aku belum belajar apapun kan dari sekolah ini, namun aku sedikit tercengang ketika kudapatkan Raka sedang membuka buku semacam ensiklopedia yang cukup tebal. Sungguh... Raka benar-benar membuatku terdiam saat itu, bagaimana tidak, disaat semuanya sedang terdiam, atau berjalan-jalan ke kelas lain untuk menemui teman-temannya, Raka duduk bersama Dion yang sedang asik bermain hp, sedangkan dia membuka buku ensiklopedia, aku takjub.
Tak beberapa lama bel berbunyi nyaring mengalihkan pandanganku dari Raka kepada anak-anak yang mulai sibuk memasuki kelas. Seorang ibu guru memasuki kelasku, dengan santai iya memperkenalkan diri, namanya Bu Finka, dia walikelasku saat itu, dia seorang guru BP. Awal mula, kita hanya diberi jadwal pelajaran, dan daftar piket, duh.. jaman ya piket. Entah ini kebetulan atau memang sudah diatur namun aku lagi-lagi ditempatkan di hari yang sama dengan Sarah, hari Rabu, memang sahabat, tidak bisa dipisahkan. Namun, aku lagi-lagi tercengang ketika mendapati nama Raka berada di hari yang sama denganku, itu tandanya setiap hari rabu, aku dan Raka bisa saja saling bekerja sama membersihkan kelas, sungguh ada perasaan yang luar biasa di hatiku saat aku menyadari hal itu.
Wednesday
Sayang, suasana yang seharusnya terkesan bagus ini, jadi terlihat lebih canggung, tidak ada satupun pembicaraan yang terlontar diantara kami berdua. “eh.. sapu dimana?” aku berusaha mencairkan suasana, namun dia tidak menjawab, aku geregetan dan berusaha cuek, namun aku paling tidak bisa didiamkan seperti ini “eh woy...!!” “punya mata kan? Bisa liat sapu didepan kelas kan?” Seketika aku terdiam, sesadis itukah dia jika berbicara pada orang, tidak bisakah dia lebih lembut? “Eh ada Alyssa” aku sangat mengenal suara itu, iya suara Sarah, dia tampaknya begitu ceria pagi ini. Seharusnya aku berterimakasih pada Sarah, dia sudah sedikit mencairkan suasana di kelas pagi ini, sungguh, aku benci suasana canggung. Aku segera beranjak mengambil sapu, dan menemukan Raka masih sibuk dengan Kursi dan meja. Masa bodohlah dengan dia memangnya dia siapa bisa-bisanya sesadis itu padaku, aku tak mau memusingkan hal yang tidak begitu penting ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar