Jumat, 30 Desember 2011

Memory of You - part 5

She makes me feel like a fool

            Setelah melihat senyumnya kemarin, membuat hari-hariku belakangan ini jadi tidak karuan. Belum lagi teman-teman sekelas yang mulai membuat gosip-gosipn aneh tentang aku dan Dion. Bilang aku naksir Dion, bilang kita cocok, ergh... whatever, benar-benar gosip yang membuatku muak.
           
            Hari ini lumayan cerah, setelah bel istirahat, kulankahkan kakiku menuju kantin sendiri, Sarah menghilang, entahlah. Setelah membeli beberapa snack ringan dan satu teh kemasan, aku segera duduk disalah satu meja di kantin. Sedang asik, menikmati snack yang ku beli tadi sosok Fian mengagetkanku, dia tiba-tiba saja duduk dihadapanku. “eh Alyssa sendirian?” “iya” jawabku agak tidak santai. Ohiya, belakangan ini aku memang sedang dekat dengan Fian, entahlah Sarah sekarang sedang asik bermain dengan teman barunya, sekarang saja aku tidaklagi sebangku dengan Sarah, melainkan Dina.Aku juga sering curhat dengan Fian, dan menghabiskan waktu bersamanya, padahal dia berbeda kelas denganku.
            Kami bersendagurau saat itu, denganlelucon-lelucon yang aneh yang dilontarkan Fian yang kadang menurutku sedikit ‘garing’ tiba-tiba saja mataku menangkap sosok Raka, dia terlihat sedang tertawa lepas saat itu, namun mengejutkan, dia tertawa, karna Sarah. Hilang sudah kefokusanku pada topik pembicaraan yang dibuat Fian, aku terus memandangi Raka, die menatapku sekejap. “Alyssa!! Lo lagi liatin siapa deh?”  Fian mengejutkanku. “ haah? Eh...enggak kok, bukan siapa-siapa, iya bukan siapa-siapa” kataku asal. “bohong.... lo lagi liatin Raka sama Sarah? Kenapa mereka? Gue perhatiin mereka akhir-akhir ini sering banget berduaan, diperpus, di kantin, waktu gue lagi ke toko buku aja, ada mereka, berdua” seketika dadaku sesak, masa iya aku cemburu, Fian menyadari ‘mungkin’ raut wajahku berubah. “lo kenapa sa? Tiba-tiba muka lo aneh, lo cemburu? Sama mereka? AH! Jangan bilang lo suka sama Raka?” ucap Fian yang terdengar cukup keras “shit! Diem lo!” ucapku sontak kaget mendengar perkataannya. “galak -__- cerita sama guelaah” aku berpikir sejenak, sepertinya memang sudah saatnya ada seseorang yang tahu tentang perasaanku ini, mungkin Fian bisa menjaga rahasia. “emm.... tapi lo jangan nyebar!”  setelah mengancam Fian, Fian langsung menunjukkan tangannya mengepal menyisakan jari telunkuk dan jari tengah yang terangkat, serta menutup mulutnya sangat rapat, aku tertawa kecil. 

“sebenernya ini gue bodoh banget kali ya, jujur aja gue gakpernah kenal Raka pas kita masih satu SMP dulu, tiba-tiba aja gue mulai suka sama dia dari awal-awal masuk SMA, aneh ya an?” kataku lalu menggaruk bagian kepalaku yang sebenernya tidak terasa gatal. “lo tuh bego atau tolol deh sa? Ya lo gak aneh lah, setiap orang itu berhak buat nyimpen perasaan buat seseoarng, Cuma kita gaboleh terus berharap orang itu bakal nyimpen perasaan ke kita juga, apalagi maksa” Aku tersenyum memaksa.

Kurebahkan tubuh lelahku keatas tempat tidur kesayanganku, setelah mandi tadi, aku merenungkan perkataan Fian, jadi boleh? Jadi boleh jika kau menyimpan perasaan pada Raka? Handphone ku berdering, tertera nama Sarah disana, sudah lama juga aku tidak telpon-telponan dengannya, padahal dulu kami suka melakukan hal tersebut sampai larut malam, entah bergosip atau sekedar menyusun plan-plan gajelas untuk liburan. Segera tanpa basa-basi kuangkat telpon dari Sarah. “Alyssaaaaaa......... kangen telpon-telponan sama lo” sapa Sarah riang dengan suara khas-nya yang agak melengking. “hahaha gue juga sar, kenapa nih tumben” aku berusaha berbicara senormalnya, akhir- akhir ini kadang aku suka merasa canggung pada Sarah, padahal dia sahabatku sendiri. “ yaaa kangen aja sama lo, sekalian mau cerita-cerita”  “ooh ayodong cerita, kayanya gue banyak ketinggalan nih berita tentang lo”  Sarah pun mulai menceritakkan hal-hal tentang dirinya, yang sekarang makin suka baca bukulah, dia lagi belajar gitar dan sebagainya sampai... “dan lo tau gue suka ngelakuin itu kenapa?” aku menerka-nerka “kenapa? Hobi baru ya? Atau karna lo lagi suka sama seseorang?”  terdengar Sarah tertawa kecil setelah aku mengatakan tebakkanku “lo peramal ya sa? Haha”   aku mengernyitkan dahi. “ gue lagi suka sama seseorang sa, sama Raka” DEG...... macam apa percakapan ini, aku jadi menyesal telah menanyakan akan hal itu. Tanpa sadar ibu jariku menekan tombol merah dihandphone, sambungan terputus.  Bodoooooh..... bodoh bodoh... lo bego alyssa!! Kalau lo matiin telponnya nanti dia curiga, lo mau nyakitin perasaan sahabat lo sendiri?  Segera aku mengetik sebuah pesa pada Sarah.

To: Sarah
Sar, maaf banget tadi batre hp low, dan nyokap manggil barusan, lanjut besok yaaa. Ohiya gue seneng kalo emang Raka bawa pengaruh baik buat kebiasaan lo sekarang, semoga dia juga suka ya sama lo ;)

            “maaf sar...” gumamku k ecil, setelah membaca teks balasan dari Sarah ‘iya gapapa sa, thanks ya!’  keletakkan hpku ke sebelah kanan ku, aku meletakkan kedua tanganku didepan dadaku, mataku menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih bersih. Mulutku membungkam seketika. Kurasakan degupan yang tidak beraturan di dadaku. Rasanya sesak, sakit. Bohong adalah jika aku bilang kata-kata Sarah tidak berpengaruh sedikitpun pada perasaanku, aku kalut. Rasanya ingin menangis, namun sayang tidak bisa. Rasanya seperti orang bodoh, menyimpan perasaan untuk seseorang yang mungkin tidak memerdulikan diri kita. Tapi justru orang itu dekat dengan sahabat kita, dan peristiwa kejamnya adalah, sahabat kita ternyata juga memiliki perasaan yang lebih terhadap seseorang itu.

Memory of You - part 4

As Time Goes By

            Hari-hari terasa begitu cepat berlalu, ini sudah memasuki semester 2, dan rasanya perasaanku sudah mengarung terlalu jauh untuk seorang Raka, apa mungkin aku benar-benar menyukainya? Entah, ini aneh.
           
            Hari  ini, ada kerja kelompok senibudaya, ansambel. Betapa irinya aku pada Sarah, iya, dia satu kelompok dengan Raka. Sudahlah, aku tidak mau memusingkan itu, lagi pula inikan hanya kerja kelompok, untuk apa aku memusingkan hal tersebut, ini masalah nilai. Di sela-sela keseriusan kami dalam mengaransemen lagu yang untungnya aku satu kelompok dengan Dion, yang memang mahir dalam urusan musik, aku, Dion dan 5 orang lainnya memutuskan untuk beristirahat sejenak, terlalu serius juga bukanlah hal yang bagus. “eh main truth or dare yuk...”  Dina asal ngomong. Aku tersenyum, mungkin ini ide bagus untuk kenal lebih dekat dengan teman baru, yaa walau kami sudah 6 bulan bersma, waktu bukanlah jaminan dari kedekatan kami yang sekelas namun jarang berbicara satu sama lain ini. Semua tampak setuju. Karna kami kerja kelompok di rumah Dina, maka Dina segera mengambil semacam botol kosong yang entah darimana dia dapat.
            Satu-persatu orang terkena gilirannya  masing – masing, aku juga sudah, untung pertanyaanya sangat mudah. Aku hanya ditanya apakah aku mempunyai uneg-uneg diantara mereka, ya jelas saja tidak.  “ ahaaa Dion’s turn” ucapku saat botol yang kuputar mengarah ke Dion. “truth or dare” “truth”  “dari raut muka lo belakangan ini, gue mau nanya, lo pasti lagi suka sama salah satu cewe di sekolah” tebakku asal, namun itu disambut dengan gelak tawa penasaran teman-temanku. “damn..” gerutunya pelan “iyaaa -__-“ seketika celotehan asal seperti haah... atau wow.. langsung keluar dari mulut-mulut usil kami “siapa?” tanyaku penasaran “kayanya Alyssa penasaran banget yaa, waah curiga nih gue, jangan-jangan lo suka ya sama Dion”  ucap salah satu temanku asal, Erdo. Namun sialnya yang lain malah ikut menggodaku, bodohnya Dion malah senyum-senyum lagi -___- “apaansih lo semua... buruan jawab dion” Dion tampak berpikir dan membuat kami semua penasaran. “Sarah” “whaaat? Diakan sahabat gue!” ”iya gue tau kali, makanya bantuin gue dong! Ehiya awas ya lo semua sampe nyebar” semua tertawa, ya termasuk aku.

            Ini dia hari yang ku tunggu, yap penampilan ansambel kami, untuk pengambilan nilai seni musik kami. Dikelasku terbagi menjadi 5 kelompok. Seketika di hari itu banyak sekali alat-alat musik seperti gitar, tam-tam, suling, pianika, dan sebagainya. Pak Tama memasuki kelas kami dan kelompoki pertama maju, penampilannya sedikit mengecewakan. Kelompok 2, ini kelompok Sarah, yang artinya, ini juga kelompok Raka, dengan baju batik khas sekolah kami, Raka maju dengan membawa gitar. Dia tersenyum, dan tertawa kecil, lalu dengan perlahan namun pasti, Raka mulai memetik gitarnya, alunannya begitu indah.
            Setelah beberapa kelompok maju, kini giliran kelompokku yang siap tampil, aku dan Dion akan memainkan gitar, Dion classic, dan aku bagian akustiknya, Erdo pada tam-tam sedangkan yang lainnya memainkan pianika dan suling. Aku melirik kearah Raka yang duduk di barisan tengah, dia paling depan. Sejenak mata kami saling menatap satusama lain, itu membuat dadaku berdegup kencang. Rasanya seketika jantungku berhenti, dia tersenyum.

Rabu, 28 Desember 2011

Memory of You - part 3


Piket


            Sayang Fian saat itu tidak masuk sekolah, padahal novel yang sekarang sedang dipegang Fian sangat-sangat ingin kubaca belakangan ini, biarlah mungkin Fian sakit, atau mungkin ada acara, aku juga tidak inging terlalu memusingkan hal itu. Kembali ke kelas tidak ada banyak yang bisa kulakukan selain membuka buku tulis kosongku dan mencoret-coret isinya, karna memang aku belum belajar apapun kan dari sekolah ini, namun aku sedikit tercengang ketika kudapatkan Raka sedang membuka buku semacam ensiklopedia yang cukup tebal. Sungguh... Raka benar-benar membuatku terdiam saat itu, bagaimana tidak, disaat semuanya sedang terdiam, atau berjalan-jalan ke kelas lain untuk menemui teman-temannya, Raka duduk bersama Dion yang sedang asik bermain hp, sedangkan dia membuka buku ensiklopedia, aku takjub.

Tak beberapa lama bel berbunyi nyaring mengalihkan pandanganku dari Raka kepada anak-anak yang mulai sibuk memasuki kelas. Seorang ibu guru memasuki kelasku, dengan santai iya memperkenalkan diri, namanya Bu Finka, dia walikelasku saat itu, dia seorang guru BP. Awal mula, kita hanya diberi jadwal pelajaran, dan daftar piket, duh.. jaman ya piket.  Entah ini kebetulan atau memang sudah diatur namun aku lagi-lagi ditempatkan di hari yang sama dengan Sarah, hari Rabu, memang sahabat, tidak bisa dipisahkan. Namun, aku lagi-lagi tercengang ketika mendapati nama Raka berada di hari yang sama denganku, itu tandanya setiap hari rabu, aku dan Raka bisa saja saling bekerja sama membersihkan kelas, sungguh ada perasaan yang luar biasa di hatiku saat aku menyadari hal itu.
           
Wednesday

            Ini hari Rabu, sejak tadi aku bangun, entah apa yang membuat aku sedikit lebih bersemangat untuk berangkat kesekolah, masa iya ini karna faktor piket, atau faktor Raka, sungguh pikiranku saat itu sangat kalut, entahlah, namun satu yang pasti ada sedikit perasaan menggebu saat itu. Aku datang terlalu pagi, tapi justru itu kudapati Raka sendirian dikelas mebereskan beberapa kursi dan meja, kurasakan pipiku memerah, sungguh aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Kusiapkan diriku memasuki kelas “eh lo cepetan kek masuk, galiat gue lagi ribet apa? Bantuin!”  itu suaranya... iya suara Raka, itu adalah kata-kata yang dia lontarkan padaku, walau terkesan dingin dan cuek, tapi satu senyuman dapat kurasakan terlukis di wajahku saat itu, iya aku tersenyum karena suaranya. “iya bentar” aku merapihkan beberapa kursi, aku berusaha meliriknya dan kudapati dia masih serius mengangkat beberapa bangku yang tersusun terbalik diatas meja, dia menurunkan kursi itu, semua pekerjaannya terklihat rapih, beberapa tetes keringat menghiasi dahinya. 
             Sayang, suasana yang seharusnya terkesan bagus ini, jadi terlihat lebih canggung, tidak ada satupun pembicaraan yang terlontar diantara kami berdua. “eh.. sapu dimana?” aku berusaha mencairkan suasana, namun dia tidak menjawab, aku geregetan dan berusaha cuek, namun aku paling tidak bisa didiamkan seperti ini “eh woy...!!” “punya mata kan? Bisa liat sapu didepan kelas kan?”  Seketika aku terdiam, sesadis itukah dia jika berbicara pada orang, tidak bisakah dia lebih lembut? “Eh ada Alyssa” aku sangat mengenal suara itu, iya suara Sarah, dia tampaknya begitu ceria pagi ini. Seharusnya aku berterimakasih pada Sarah, dia sudah sedikit mencairkan suasana di kelas pagi ini, sungguh, aku benci suasana canggung. Aku segera beranjak mengambil sapu, dan menemukan Raka  masih sibuk dengan Kursi dan meja. Masa bodohlah dengan dia memangnya dia siapa bisa-bisanya sesadis itu padaku, aku tak mau memusingkan hal yang tidak begitu penting ini.

Memory of You - part 2

About Raka and I

           
            Raka. Adrian Raka Sastradyo. Begitu , ya kira-kira begitu namanya, sosok lelaki yang tanpa sadar telah mengisi hidupku belakangan ini. Sosoknya yang pendiam membuat tak jarang para gadis di sekolahku mengaguminya, belum lagi nilai-nilainya yang memuaskan, dan tahukah? Dia anak basket, mungkin itulah yang membuat para gadis makin penasaran kepadanya.
            Aku. Ananda Alyssa Kiara. Alyssa, begitu kebanyakan teman-temanku memanggil namaku. Namun ayah selalu memanggilku Kiara, Kiara itu nama dari ibuku yang bernama Kinan Anandiara. Bukan hanya ayah yang memanggilku begitu, satu orang spesial, ya satu orang yang cukup spesial untukku. Menjadi seorang gadis penyakitan sepertiku bukanlah sebuah pilihan, melainkan memang sudah jalan dari Tuhan. Namun aku bersyukur dibalik semua penyakitku ternyata Tuhan telah membawaku kepada 1 orang yang cukup mewarnai hari-hari kelamku.

Masa orientasi siswa untuk memasuki SMA yang kupilih saat itu berjalan dengan mudah, satu hari setelahnya, aku baru menyadari, dia disana, ya Raka... Dia duduk di kursi pojok kanan belakang, masih mengenakan seragam putih birunya. Awal aku menyadarinya memang biasa, karna memang Raka satu SMP denganku, namun tahukah? Dari 3 tahun itu, aku hampir tidak mengetahui kehadiran Raka di SMPku, aku baru mengetahui kehadirannya, karna dia adalah seorang murid dengan hasil ujian terbaik di SMPku dulu. Dan mungkin dari sana pula kisahku bermula. Di SMA yang kupilih ini aku duduk bersama Sarah, sahabatku dari SMP yang kebetulan sekali masuk di SMA yang sama denganku, dan kebetulan juga, sekelas denganku.

            Besoknya, semua murid SMAku saat itu mengenakan seragam putih-abuabu, di pagi hari itulah aku melihat Raka yang baru datang, berjalan di lorong sekolah dengan Dion, teman barunya, yang juga sekals denganku, mereka berjalan sambil bersendagurau, entah apa yang mereka bicarakan. Aku terdiam, ketika akhirnya mataku menangkap sebuah senyum yang terlukis indah di wajah Raka. Bodoh... ada apa denganku, ini aneh, sudahlah itu mungkin hanya kesan pertama. Tapi harus aku akui Raka terlihat sangat tampan dan gagah pada saat itu. “Alyssa.. kita jadi ke kelasnya Fian gak? Katanya lo mau minjem novel gue yang lagi dipinjem Fian?” seketika aku tersadar dari lamunanku, ketika Sarah akhirnya menegurku. Ohyaaa Fian itu sahabatnya Sarah, dia seorang cowo yang bisa dibilang sangat cool, dulu saat di SMP banyak banget yang suka sama Fian, tapi aku tidak termasuk yaa,  namun aku juga punya cerita tersendiri dengan Fian. “hmm... iya yuk!” ku palingkan sejenak tatapanku dari Sarah, berusaha mencuri pandang lagi senyum Raka saat itu, namun sosoknya menghilang, entah mungkin sudah masuk kelas.

Memory of You - part 1

Me & us       

Aku terdiam. Untuk beberapa saat, takada satu patah katapun yang terucap, mendengar tawanya sore itu, menjadi obat tersendiri yang mungkin sangat ampuh, melebihi, obat-obat yang belakangan ini menghiasi hidup ku. Sebagai gadis berumur 18 tahun, apakah wajar untuk terus terduduk di kursi roda, mengkonsumsi berbagai macam obat tiap harinya? Bukankah seharusnya gadis seumuranku sedang duduk di bangku kuliahan, mendengarkan para dosen berkicau, atau duduk ditaman bersama teman membahas rumus-rumus, atau mungkin hangout, merefleksikan diri di mall.
           Sudahlah, bagiku hal-hal penting itu tidak mungkin bisa aku lakukan, bagaimana mungkin, aku terduduk di kursi roda dan mungkin hidupku hanya tinggal hitungan hari. Sungguh, aku lelah, aku muak dengan penyakitku ini, enyah saja kau Kanker hati tak berguna! “sabar Kiara... semua indah pada waktunya.” Kata-kata itu, ya... kata-kata itu yang selalu menyadarkanku bahwa ini takkan berlangsung lama, rasa sakit ini akan segera usai, kata-kata itu, adalah kata-kata dari seseorang yang sangat ku sayang, Raka. Raka, thanks for our beautiful one and half years. Satu setengah tahun tidak berarti banyak bila dibandingkan, dengan perjuangan untuk mendapatkan dirinya. Dua setengah tahun adalah waktu yang lama untung menunggu dirinya, menunggu seorang Raka.