She makes me feel like a fool
Setelah melihat senyumnya kemarin, membuat hari-hariku belakangan ini jadi tidak karuan. Belum lagi teman-teman sekelas yang mulai membuat gosip-gosipn aneh tentang aku dan Dion. Bilang aku naksir Dion, bilang kita cocok, ergh... whatever, benar-benar gosip yang membuatku muak.
Hari ini lumayan cerah, setelah bel istirahat, kulankahkan kakiku menuju kantin sendiri, Sarah menghilang, entahlah. Setelah membeli beberapa snack ringan dan satu teh kemasan, aku segera duduk disalah satu meja di kantin. Sedang asik, menikmati snack yang ku beli tadi sosok Fian mengagetkanku, dia tiba-tiba saja duduk dihadapanku. “eh Alyssa sendirian?” “iya” jawabku agak tidak santai. Ohiya, belakangan ini aku memang sedang dekat dengan Fian, entahlah Sarah sekarang sedang asik bermain dengan teman barunya, sekarang saja aku tidaklagi sebangku dengan Sarah, melainkan Dina.Aku juga sering curhat dengan Fian, dan menghabiskan waktu bersamanya, padahal dia berbeda kelas denganku.
Kami bersendagurau saat itu, denganlelucon-lelucon yang aneh yang dilontarkan Fian yang kadang menurutku sedikit ‘garing’ tiba-tiba saja mataku menangkap sosok Raka, dia terlihat sedang tertawa lepas saat itu, namun mengejutkan, dia tertawa, karna Sarah. Hilang sudah kefokusanku pada topik pembicaraan yang dibuat Fian, aku terus memandangi Raka, die menatapku sekejap. “Alyssa!! Lo lagi liatin siapa deh?” Fian mengejutkanku. “ haah? Eh...enggak kok, bukan siapa-siapa, iya bukan siapa-siapa” kataku asal. “bohong.... lo lagi liatin Raka sama Sarah? Kenapa mereka? Gue perhatiin mereka akhir-akhir ini sering banget berduaan, diperpus, di kantin, waktu gue lagi ke toko buku aja, ada mereka, berdua” seketika dadaku sesak, masa iya aku cemburu, Fian menyadari ‘mungkin’ raut wajahku berubah. “lo kenapa sa? Tiba-tiba muka lo aneh, lo cemburu? Sama mereka? AH! Jangan bilang lo suka sama Raka?” ucap Fian yang terdengar cukup keras “shit! Diem lo!” ucapku sontak kaget mendengar perkataannya. “galak -__- cerita sama guelaah” aku berpikir sejenak, sepertinya memang sudah saatnya ada seseorang yang tahu tentang perasaanku ini, mungkin Fian bisa menjaga rahasia. “emm.... tapi lo jangan nyebar!” setelah mengancam Fian, Fian langsung menunjukkan tangannya mengepal menyisakan jari telunkuk dan jari tengah yang terangkat, serta menutup mulutnya sangat rapat, aku tertawa kecil.
“sebenernya ini gue bodoh banget kali ya, jujur aja gue gakpernah kenal Raka pas kita masih satu SMP dulu, tiba-tiba aja gue mulai suka sama dia dari awal-awal masuk SMA, aneh ya an?” kataku lalu menggaruk bagian kepalaku yang sebenernya tidak terasa gatal. “lo tuh bego atau tolol deh sa? Ya lo gak aneh lah, setiap orang itu berhak buat nyimpen perasaan buat seseoarng, Cuma kita gaboleh terus berharap orang itu bakal nyimpen perasaan ke kita juga, apalagi maksa” Aku tersenyum memaksa.
Kurebahkan tubuh lelahku keatas tempat tidur kesayanganku, setelah mandi tadi, aku merenungkan perkataan Fian, jadi boleh? Jadi boleh jika kau menyimpan perasaan pada Raka? Handphone ku berdering, tertera nama Sarah disana, sudah lama juga aku tidak telpon-telponan dengannya, padahal dulu kami suka melakukan hal tersebut sampai larut malam, entah bergosip atau sekedar menyusun plan-plan gajelas untuk liburan. Segera tanpa basa-basi kuangkat telpon dari Sarah. “Alyssaaaaaa......... kangen telpon-telponan sama lo” sapa Sarah riang dengan suara khas-nya yang agak melengking. “hahaha gue juga sar, kenapa nih tumben” aku berusaha berbicara senormalnya, akhir- akhir ini kadang aku suka merasa canggung pada Sarah, padahal dia sahabatku sendiri. “ yaaa kangen aja sama lo, sekalian mau cerita-cerita” “ooh ayodong cerita, kayanya gue banyak ketinggalan nih berita tentang lo” Sarah pun mulai menceritakkan hal-hal tentang dirinya, yang sekarang makin suka baca bukulah, dia lagi belajar gitar dan sebagainya sampai... “dan lo tau gue suka ngelakuin itu kenapa?” aku menerka-nerka “kenapa? Hobi baru ya? Atau karna lo lagi suka sama seseorang?” terdengar Sarah tertawa kecil setelah aku mengatakan tebakkanku “lo peramal ya sa? Haha” aku mengernyitkan dahi. “ gue lagi suka sama seseorang sa, sama Raka” DEG...... macam apa percakapan ini, aku jadi menyesal telah menanyakan akan hal itu. Tanpa sadar ibu jariku menekan tombol merah dihandphone, sambungan terputus. Bodoooooh..... bodoh bodoh... lo bego alyssa!! Kalau lo matiin telponnya nanti dia curiga, lo mau nyakitin perasaan sahabat lo sendiri? Segera aku mengetik sebuah pesa pada Sarah.
To: Sarah
Sar, maaf banget tadi batre hp low, dan nyokap manggil barusan, lanjut besok yaaa. Ohiya gue seneng kalo emang Raka bawa pengaruh baik buat kebiasaan lo sekarang, semoga dia juga suka ya sama lo ;)
“maaf sar...” gumamku k ecil, setelah membaca teks balasan dari Sarah ‘iya gapapa sa, thanks ya!’ keletakkan hpku ke sebelah kanan ku, aku meletakkan kedua tanganku didepan dadaku, mataku menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih bersih. Mulutku membungkam seketika. Kurasakan degupan yang tidak beraturan di dadaku. Rasanya sesak, sakit. Bohong adalah jika aku bilang kata-kata Sarah tidak berpengaruh sedikitpun pada perasaanku, aku kalut. Rasanya ingin menangis, namun sayang tidak bisa. Rasanya seperti orang bodoh, menyimpan perasaan untuk seseorang yang mungkin tidak memerdulikan diri kita. Tapi justru orang itu dekat dengan sahabat kita, dan peristiwa kejamnya adalah, sahabat kita ternyata juga memiliki perasaan yang lebih terhadap seseorang itu.